Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

AS Kembali Gempur Iran, Bunker Senjata hingga Fasilitas Militer Jadi Sasaran

AS Kembali Gempur Iran, Bunker Senjata hingga Fasilitas Militer Jadi Sasaran
AS Kembali Gempur Iran, Bunker Senjata hingga Fasilitas Militer Jadi Sasaran

TAJAM.NET — Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah militer AS melancarkan serangan udara untuk malam ketujuh secara beruntun. Operasi tersebut berlangsung setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata sementara telah berakhir.

Berdasarkan pernyataan Komando Pusat AS (Centcom) yang diunggah melalui akun X pada Sabtu (18/7/2026), operasi militer kali ini diarahkan ke sejumlah titik strategis milik Iran.

Serangan menyasar fasilitas militer Iran

Centcom menjelaskan bahwa target operasi meliputi berbagai infrastruktur yang dinilai memiliki nilai strategis bagi kemampuan militer Iran.

Pasukan AS, menurut Centcom, "menyerang lokasi pengawasan, infrastruktur logistik militer, penyimpanan senjata bawah tanah, dan kemampuan maritim".

Operasi tersebut berlangsung selama beberapa jam dan berakhir sekitar pukul 21.30 waktu ET atau 02.30 BST.

Dalam keterangannya, Centcom menyebut pengerahan kekuatan dilakukan menggunakan berbagai aset tempur.

"Pasukan AS mengerahkan pesawat tempur, drone udara, dan kapal perang di samping aset lainnya," demikian pernyataan tersebut.

Iran mengklaim balas serangan

Di tengah operasi militer AS, Iran mengaku telah melancarkan serangan balasan dengan menargetkan sejumlah negara sekutu Washington di kawasan Timur Tengah, termasuk Kuwait.

Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya diaktifkan setelah menghadapi serangan rudal dan drone yang disebut berasal dari Iran menyusul terjadinya "agresi Iran".

Sementara itu, militer Yordania mengungkapkan pihaknya berhasil mencegat 10 rudal Iran yang melintas di wilayah udaranya pada malam hari. Tidak ada laporan mengenai kerusakan akibat insiden tersebut.

Laporan ledakan tanker dibantah AS

Situasi yang memanas juga memunculkan laporan mengenai insiden di jalur pelayaran Selat Hormuz.

Kantor berita Fars milik pemerintah Iran melaporkan dua kapal tanker minyak "meledak dan terbakar saat melewati jalur yang dipenuhi ranjau di selatan Selat Hormuz".

Namun, Centcom segera membantah informasi tersebut melalui akun X.

"Seperti kebanyakan klaim IRGC, ini salah."

Aktivitas Selat Hormuz ikut terdampak

Konflik yang terus berlanjut turut memengaruhi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.

Jalur yang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global itu dilaporkan sebagian besar mengalami penghentian aktivitas akibat saling serang antara kedua pihak.

Media pemerintah Iran juga melaporkan adanya ledakan di Kota Yazd yang berada di wilayah tengah negara tersebut.

Selain itu, ledakan juga disebut terjadi di Pulau Qeshm dan Pelabuhan Bandar Abbas yang berada di sekitar kawasan Selat Hormuz.

Iran klaim serang pangkalan AS

Pada Jumat, angkatan bersenjata Iran mengklaim telah menyerang sejumlah fasilitas militer milik AS di kawasan Teluk.

Target yang disebut meliputi pangkalan di Kuwait, Bahrain, Yordania, serta untuk pertama kalinya di Suriah.

Pemerintah AS membantah klaim tersebut.

Sebelumnya, pejabat Kuwait menyampaikan bahwa serangan pesawat nirawak Iran mengakibatkan beberapa tentaranya mengalami luka-luka.

Selain korban, sebuah pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air juga dilaporkan mengalami kerusakan.

Di sisi lain, sumber yang dikutip CBS News, mitra BBC di Amerika Serikat, menyebut beberapa personel militer AS mengalami luka akibat serangan Iran terhadap dua pangkalan militer di Yordania dalam sepekan terakhir.

Perbedaan klaim soal sasaran serangan

Washington juga membantah tuduhan Teheran yang menyebut pasukan AS menyerang berbagai infrastruktur sipil di Iran, termasuk jembatan, stasiun kereta api, dan bandara.

Meski demikian, otoritas Provinsi Hormozgan menyatakan sedikitnya tujuh orang meninggal dunia akibat serangan tersebut.

BBC Verify bersama BBC Persian telah memverifikasi rekaman yang memperlihatkan kerusakan di Jembatan Gariveh.

Video yang direkam pada malam hari menunjukkan bola api di atas jembatan, sedangkan gambar pada siang hari memperlihatkan ruas jalan yang hancur disertai puing-puing di sekitar lokasi.

Menanggapi tudingan Iran, seorang juru bicara Gedung Putih mengatakan kepada BBC bahwa AS "telah melakukan serangan secara eksklusif terhadap target militer, termasuk infrastruktur logistik militer".