Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.031 Triliun, Purbaya Sebut Kondisi Fiskal Indonesia Masih Aman

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.031 Triliun, Purbaya Sebut Kondisi Fiskal Indonesia Masih Aman
Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.031 Triliun, Purbaya Sebut Kondisi Fiskal Indonesia Masih Aman

TAJAM.NET — Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia kembali mengalami kenaikan pada Mei 2026 hingga mencapai USD444,4 miliar atau sekitar Rp8.031,6 triliun. Meski angkanya bertambah, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam batas yang aman.

Berdasarkan data terbaru, nilai ULN Indonesia tumbuh 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy). Laju pertumbuhan tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang tercatat sebesar 2,0 persen.

Rasio utang masih di bawah batas internasional

Purbaya menegaskan bahwa besarnya nominal utang tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai kesehatan fiskal suatu negara. Menurutnya, penilaian harus mengacu pada rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Jadi kita kalau pakai di fiskal itu kan di bawah 60 persen, harusnya di bawah 60 persen kita masih 40 persen jadi masih jauh dari ininya. Itu ukuran dari kesinambungan utang yang memakai standar yang paling strict di dunia, Maastricht Treaty itu," kata Purbaya di Istana Kepresidenan, Rabu (15/7/2026) malam.

Ia menjelaskan, metode penghitungan tersebut mengikuti standar internasional yang tertuang dalam Maastricht Treaty. Dengan rasio utang sekitar 40 persen terhadap PDB, Indonesia masih berada jauh di bawah batas acuan sebesar 60 persen.

Bandingkan dengan sejumlah negara maju

Untuk memberikan gambaran, Purbaya menyebut sejumlah negara maju justru memiliki rasio utang yang jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

Ia mencontohkan Amerika Serikat yang rasio utangnya telah melampaui 100 persen, Singapura sekitar 175 persen, Jepang mencapai 275 persen, sedangkan Jerman berada di kisaran 60 persen.

"Jadi kalau melihat kondisi keamanan fiskal suatu negara ya harus datang dengan acuan-acuan yang pas," tegasnya.

Peringkat utang Indonesia tetap stabil

Menurut Purbaya, kekuatan fiskal Indonesia juga tercermin dari keputusan lembaga pemeringkat kredit internasional S&P yang tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan prospek (outlook) stabil.

Ia menilai keputusan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan anggaran negara masih mendapat kepercayaan dari lembaga independen dunia.

"Mereka melihat gimana kita cara mengelola anggaran. Walaupun di dalam negeri udah ribut, sebenarnya bagus," katanya.

Purbaya menambahkan, apabila kondisi fiskal Indonesia dinilai memburuk, maka lembaga pemeringkat berpotensi menurunkan prospek maupun peringkat utang nasional.

"Kalau kita dianggap tidak mampu pasti udah unstable atau negatif atau mungkin udah downgrade (rating-nya)," pungkas Purbaya.