Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

BMKG Peringatkan El Nino Picu Ancaman Karhutla dan Kekeringan 2026, Ini Periode Rawan di Indonesia

BMKG Peringatkan El Nino Picu Ancaman Karhutla dan Kekeringan 2026, Ini Periode Rawan di Indonesia
BMKG Peringatkan El Nino Picu Ancaman Karhutla dan Kekeringan 2026, Ini Periode Rawan di Indonesia. (Dok. Pewarta.co.id)

TAJAM.NET — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang diperkirakan terjadi pada musim kemarau 2026.

Kondisi ini disebut berkaitan dengan fenomena El Nino dengan intensitas moderat yang diprediksi memengaruhi sebagian wilayah Indonesia.

BMKG menegaskan bahwa ancaman bencana hidrometeorologi tidak hanya terjadi saat musim hujan, tetapi juga dapat muncul ketika memasuki musim kemarau.

Ancaman Bencana Saat Musim Kemarau

Plh. Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami dua jenis ancaman bencana hidrometeorologi, baik saat musim hujan maupun musim kering.

“Pola hujan lebat, misalnya saja banjir, banjir bandang, longsor, dan lain sebagainya. Tapi juga ada hal lain yaitu ancaman bencana hidrometeorologi kering, misalnya saja kekeringan dan juga bahkan kebakaran hutan. Untuk itu maka pada saat memasuki musim kemarau ini kita perlu juga mengantisipasi akan potensi kebakaran hutan dan lahan,” kata Ida dalam keterangannya secara virtual, Selasa (23/6/2026).

Pola Musim di Indonesia

BMKG menjelaskan, secara umum musim hujan di Indonesia berlangsung pada Desember hingga Februari. Sementara periode Maret hingga Mei serta September hingga November merupakan masa peralihan atau pancaroba.

Adapun periode Juni, Juli, dan Agustus menjadi fase yang perlu mendapat perhatian khusus karena sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam musim kemarau.

Risiko Karhutla dan Kekeringan Meningkat

Menurut Ida, pada periode kemarau tersebut, potensi kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan biasanya mengalami peningkatan. Risiko ini bahkan bisa semakin kuat apabila dipengaruhi fenomena El Nino yang telah diprediksi BMKG.

“Pada saat bulan Juni, Juli, Agustus, nah ini Bapak Ibu sekalian ini yang perlu diperhatikan, karena pada bulan-bulan ini ancaman kebakaran hutan dan lahan, kemudian kekeringan itu akan biasanya menyertai di musim-musim kemarau ini. Apalagi kalau kita ingat bahwa Kedeputian Klimatologi juga sudah merilis adanya El Nino, El Nino pada skala moderat pada tahun ini potensinya,” ujarnya.

Dampak Lingkungan hingga Kesehatan

BMKG menilai karhutla merupakan ancaman serius yang perlu diantisipasi sejak dini. Selain berdampak pada kerusakan ekosistem, kebakaran hutan dan lahan juga dapat menurunkan kualitas udara serta memicu gangguan kesehatan masyarakat.

“Karhutla atau potensi kebakaran hutan dan lahan yang dapat mengancam pada saat musim kemarau kali ini itu memiliki dampak yang sangat destruktif terhadap kelestarian lingkungan, kemudian memberikan ancaman terhadap kualitas udara serta memberikan gangguan yang signifikan pada kesehatan dan juga transportasi,” tutur Ida.

Ia juga menambahkan bahwa dampak karhutla dapat semakin kompleks apabila asap menyebar hingga melintasi wilayah tertentu, bahkan berpotensi menjadi persoalan lintas daerah hingga lintas negara.

“Apalagi kalau misalnya untuk karhutla ini ketika nanti asapnya akan melintasi batas wilayah, maka ini juga akan menjadi isu kritis tersendiri,” ujarnya.

Imbauan BMKG untuk Kesiapsiagaan

BMKG mengimbau seluruh pihak, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana tersebut. Pemanfaatan informasi cuaca dan iklim dinilai penting sebagai dasar mitigasi risiko.

“Sehingga dalam mengantisipasi karhutla ini kita juga perlu mengetahui bagaimana menginterpretasikan informasi yang sudah disiapkan oleh BMKG,” pungkas Ida.