Industri Kreatif Dinilai Tangguh Hadapi Gejolak Global, Investasi Terus Mengalir
![]() |
| Industri kreatif dinilai tangguh hadapi gejolak global, investasi terus mengalir. (Dok. Ist) |
TAJAM.NET — Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menilai sektor industri kreatif Indonesia memiliki daya tahan kuat di tengah tekanan ekonomi dan dinamika geopolitik global.
Ketahanan tersebut ditopang oleh kekuatan utama ekonomi kreatif yang bertumpu pada nilai tambah dari kreativitas.
Deputi Pengembangan Strategis Kemenekraf, Cecep Rukendi, mengatakan karakter ekonomi kreatif membuat sektor ini relatif tidak mudah tergerus gejolak global.
“Ekonomi kreatif ini sangat resilien sebenarnya, karena kunci dari ekonomi kreatif itu adalah nilai tambah dari kreativitas yang terkadang harganya tanpa batas,” kata Cecep saat ditemui di Jakarta, Jumat.
Menurutnya, produk dan jasa kreatif tidak sepenuhnya bergantung pada pasar massal seperti industri konvensional.
Ekonomi kreatif memiliki ceruk pasar tersendiri yang loyal terhadap karya dan inovasi, sehingga tidak terlalu terpengaruh fluktuasi ekonomi maupun politik global.
“Tetapi memang memiliki pasar khusus yang menyukai produk dan jasa kreatif sehingga relatif resilien terhadap situasi ini,” ujarnya.
Ke depan, Kemenekraf akan memaksimalkan potensi 17 subsektor ekonomi kreatif sekaligus meningkatkan kompetensi talenta agar ekosistem industri kreatif mampu memberikan kontribusi optimal sesuai arah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2029.
Dari total 17 subsektor tersebut, pemerintah menetapkan tujuh subsektor prioritas, yakni kuliner, fesyen, kriya atau kerajinan, aplikasi digital, gim, film, dan musik.
Penetapan ini sejalan dengan tingginya minat investasi terhadap produk kreatif Indonesia sepanjang tahun lalu.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang diolah Kemenekraf, subsektor aplikasi menjadi magnet investasi terbesar pada periode triwulan I–III 2025 dengan nilai mencapai Rp40,94 triliun.
Subsektor ini mencakup fintech, e-commerce, aplikasi berbasis kecerdasan buatan, hingga aplikasi hiburan.
Investasi besar juga mengalir ke subsektor fesyen sebesar Rp26 triliun, kriya Rp22,37 triliun, dan kuliner Rp20,38 triliun.
Sementara itu, subsektor musik mencatat investasi Rp4,25 triliun, pengembang gim Rp1,86 triliun, serta film, animasi, dan video sebesar Rp1,64 triliun.
Cecep berharap penguatan berbagai faktor pendukung ekosistem ekonomi kreatif dapat mendorong kontribusi subsektor prioritas semakin signifikan, baik di dalam negeri maupun di pasar global.
“Ke depan mudah-mudahan ketika kita terus tingkatkan enabler dari ekosistem ekonomi kreatif ini dan tujuh subsektor prioritas ini akan semakin meningkat kontribusinya,” kata Cecep.
Ia optimistis subsektor seperti film dan musik yang telah menjadi unggulan di pasar domestik mampu naik kelas dan bersaing di tingkat internasional.
“Terutama misalnya seperti film dan musik yang sudah menjadi champion di dalam negeri juga akan menjadi juara di tingkat internasional,” tutupnya.

