Cuaca Jadi Tantangan, Produksi Garam Nasional 2026 Diproyeksi Bertahan di 1 Juta Ton
![]() |
| Cuaca jadi tantangan, produksi garam nasional 2026 diproyeksi bertahan di 1 juta ton. (Dok. Ist) |
TAJAM.NET — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkirakan produksi garam nasional pada 2026 masih belum mengalami peningkatan signifikan dan diproyeksikan bertahan di kisaran 1 juta ton.
Prediksi tersebut dipengaruhi kondisi cuaca yang dinilai tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menyampaikan bahwa faktor curah hujan kembali menjadi tantangan utama dalam produksi garam tahun depan.
“Kurang lebih sama perkiraannya, karena suasananya juga mirip-mirip. Tahun 2026 juga diprediksi hujan,” ujar Koswara saat ditemui di Jakarta, Selasa.
Produksi turun akibat curah hujan
Berdasarkan catatan KKP, total produksi garam nasional pada 2025, baik dari tambak rakyat maupun pelaku usaha, hanya mencapai sekitar 1 juta ton.
Jumlah ini merosot hingga 50 persen dibandingkan capaian produksi pada 2024.
Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh tingginya intensitas hujan yang menghambat proses penguapan air laut, sehingga pembentukan kristal garam tidak optimal.
Dorong standarisasi lewat sertifikasi SNI
Di tengah keterbatasan volume produksi, KKP berupaya meningkatkan kualitas garam nasional melalui program sertifikasi cara produksi garam bahan baku sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).
Program ini dilakukan melalui bimbingan teknis dan pelatihan kepada para petambak garam.
“SNI masih dilakukan, karena produksinya harus terstandardisasi. Dari tahun kemarin-kemarin juga sudah ada yang disertifikasi setelah dilatih,” kata Koswara.
Kualitas garam rakyat masih beragam
Sebelumnya, Direktur Sumber Daya Kelautan Ditjen Pengelolaan Kelautan KKP, Frista Yorhanita, menegaskan pentingnya sertifikasi untuk menyamakan praktik produksi garam rakyat yang selama ini masih beragam.
Ia menjelaskan, produksi garam rakyat umumnya masih dilakukan secara manual dan individual, sehingga kualitas garam yang dihasilkan bervariasi, mulai dari K1, K2, hingga K3.
Ketergantungan impor masih tinggi
Hingga saat ini, Indonesia masih bergantung pada pasokan garam impor untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Produksi dalam negeri rata-rata hanya mencapai 1–2 juta ton per tahun, sementara kebutuhan nasional berada di kisaran 4,5–5 juta ton.
Kekurangan sekitar 2,5–3 juta ton tersebut terpaksa dipenuhi melalui impor, khususnya untuk kebutuhan industri yang membutuhkan garam dengan standar kemurnian tinggi.
Pemerintah berharap, melalui peningkatan kualitas dan standarisasi produksi, daya saing garam nasional dapat terus ditingkatkan meski tantangan cuaca masih membayangi sektor pergaraman nasional.

