Iklan -- Scroll untuk lanjut membaca
Advertisement

Komdigi Perkuat Ekosistem Inklusi Digital, Tegaskan Akses Setara untuk Semua Warga

Komdigi Perkuat Ekosistem Inklusi Digital, Tegaskan Akses Setara untuk Semua Warga
Komdigi perkuat ekosistem inklusi digital, tegaskan akses setara untuk semua warga. (Dok. Ist)

TAJAM.NET — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan komitmen pemerintah untuk memperluas akses teknologi yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas.

Penguatan ekosistem digital yang merata menjadi fokus utama agar transformasi digital tidak meninggalkan siapa pun.

Sekretaris Ditjen Komunikasi Publik dan Media Komdigi, Very Radian, menekankan bahwa inklusi digital adalah proses kolaboratif yang harus dijalankan bersama oleh pemerintah, sektor swasta, maupun masyarakat.

“Inklusif itu bukan hanya tujuan, tetapi proses bersama. Komunikasi publik harus mampu menembus batasan dan menjadi kekuatan yang memperkaya bangsa,” ujar Very saat memberikan sambutan dalam acara SIMPHONI: Sinergi Museum Penerangan untuk Harmoni Digital Inklusif di Museum Penerangan TMII, Senin (8/12/2025).

Very menambahkan bahwa penyebaran informasi yang mudah diakses merupakan wujud kehadiran negara dalam membuka peluang setara bagi seluruh warga negara.

Selain itu, Komdigi juga menyoroti pentingnya payung hukum untuk memastikan akses digital aman dan terlindungi.

Salah satunya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Perlindungan Anak di Ruang Digital (PP Tunas) yang melahirkan platform TunasDigital.id, sebuah portal edukasi dan literasi digital untuk keluarga.

“Platform ini kami harapkan menjadi benteng terakhir bagi para ibu untuk mengawal anak-anaknya ketika mengakses internet. Ini adalah bentuk perlindungan negara yang konkret,” tegas Very.

Acara SIMPHONI juga menghadirkan Angkie Yudistia, mantan Staf Khusus Presiden 2019–2024 sekaligus penyandang disabilitas Hard of Hearing, sebagai narasumber utama.

Angkie berbagi pengalaman dalam proses penyusunan tujuh Peraturan Pemerintah dan dua Peraturan Presiden terkait pemenuhan hak penyandang disabilitas.

“Kami tidak butuh dikasihani; kami butuh kesempatan. Negara harus hadir membangun ekosistem yang mendukung penyandang disabilitas mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi,” kata Angkie.

Beragam karya para penyandang disabilitas yang ditampilkan, termasuk pertunjukan musik dan karya kreatif, semakin menegaskan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi produktivitas.

“Disabilitas bukan penghalang. Disabilitas adalah keunikan dan kelebihan. Teman-teman disabilitas mampu berkarya dan berkreasi seperti siapa pun,” tutur Very. Ia berharap seluruh peserta termotivasi untuk terus memperkuat ekosistem inklusi digital di ruang masing-masing.

Acara yang dipandu Natalia Endey ini turut dimeriahkan oleh penampilan Koste Band, komunitas POTADS, serta bazar UMKM seperti Kopi Kamu dan Ruang Isyarat, serta pameran seni komunitas disabilitas.

SIMPHONI menjadi momentum kolaboratif antara pemerintah, komunitas, UMKM, dan masyarakat untuk membangun budaya digital yang inklusif dan harmonis.

slot